Tak Sebanding Dengan Tuntutan, Warga AS Ramai Ramai Berhenti Bekerja

227

Bandung,todaystory.media- disaat pandemi seperti ini tentunya banyak orang yang kehilangan pekerjaannya, dikarenakan satu dan lain hal perusahaan banyak yang melakukan terobosan untuk menyelematkan masa depan perusahaan yang ia kelola satu pilihan dari sekian banyak pilihan yaitu mengurangi jumlah karyawan yang bergabung di perusahaan.

Namun berbeda dengan apa yang terjadi di negara adidaya Amerika Serikat ( AS ), masyarakat disana justru secara ramai-ramai banyak yang melakukan pemberhentian kerja.

Ada banyak alasan yang mendasari adanya gerakan berhenti bekerja di wilayah Amerika Serikat yang akhir-akhir ini sangat signifikan terlihat adanya perubahan pola, yang mana masyarakat disana sudah sangat meyakini tuntutan terhadap fleksibilitas kerjaan memang nyata adanya.

Dikutip dari kompas.com, akhir-akhir ini penomena baru yang terjadi di Amerika Serikat tentang data gerakan berhenti bekerja telah mencapai rekor terbaru, dikutip dari laporan Laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) mengatakan, angka gerakan berhenti bekerja masyarakat Amerika Serikat ( AS ) sudah mencapai angka 4,3 juta pada bulan Agustus 2021.

Sementara itu, dikutip dari CNN, jumlah pekerja yang berhenti bertambah 242.000 dibanding bulan juli, sebab para pekerja yang menuntut gajih lebih tinggi, kondisi kerja yang lebih baik dan pengaturan jam kerja yang lebih fleksibel.

Jumlah orang yang berhenti bekerja yang paling banyak di bidang akomodasi, layanan makanan, perdagangan grosir serta pendidikan diwilayah negara bagian dan lokal.

“ Jika anda tidak senang dengan pekerjaan anda hari ini, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mencari pekerjaan baru dan kami melihat orang-orang banyak yang melakukan itu,”  kata kepala ekonom PNC gus Faucher yang dikutip dari kompas.com

Selanjutnya, Faucher mengatakan bahwa jumlah lowongan di bulan juli sangat meningkat ke angka 11,1 juta, dan ini merupakan rekor tertinggi sejak laporan dimulai di tahun 2000.

Sementara itu menurut kepala ekonom di RSM, Joe Brusuelas saat ini ada pergeseran yang bisa dikatakan sebagai zaman keemasan bari para pekerja.

Daya tawar itu berasal dari kesediaan untuk berhenti dari pekerjaan yang tidak mereka sukai dan mencari pekerjaan baru. Pergeseran ini tidak hanya berpusat pada ekonomi sederhana, tetapi penilaian ulang yang lebih luas seputar kualitas hidup dan tujuan.

“Pekerja sekarang yakin dan mereka punya penawaran diri yang tinggi, dan hal ini menjadi pengaruh baik dalam peningkatan upah pekerja,” jelas Brusuelas dikutip dari kompas.com

Dalam gerakan ini akan sangat berdampak positif kedalam peningkatan kepuasan dalam hal karier, dan hal ini akan berdampak terhadap perekonomian dan tentunya bisa mengurangi kesenjangan antara kaya dan miskin.

Dikutip dari kompas.com, angka pencari pekerjaan baru aliasa angka yang berhenti dari pekerjaan mencapai 40% dari jumlah karyawan Amerika Serikat jika diminta kembali bekerja di perusahaan penuh waktu.

Maka dari berita ini tak kaget jika beberapa perusahaan besar di Amerika mengeluarkan pengumuman tentang penaikan gaji sampai 30% untuk kembali menarik karyawan yang siap bekerja dengan skema penuh waktu.

Penulis : todaystorymedia

Dapatkan update terbaru dari kami

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.