Mengenal Kesehatan Mental, dan Respon Apa yang Perlu Masyarakat Berikan.

119

Kesehatan merupakan kondisi fisik, mental dan sosial yang sejahtera. Seseorang dapat dikatakan sehat bila terciptanya harmoni antara fungsi fisik, jiwa dan sosial untuk menjalankan kegiatan sehari-harinya serta menghadapi masalah-masalah yang terjadi. Seseorang tidak dapat dikatakan sehat bila tidak memenuhi ketiga aspek tersebut. Namun seringnya  sehat diartikan hanya sebatas untuk fisik saja.

Kesehatan mental atau kesehatan jiwa merupakan hal yang tak kalah penting untuk dijaga. “Mens Sana In Corpore Sano” “Di dalam Tubuh yang Sehat Terdapat Jiwa yang Kuat” merupakan pepatah yang sering kita dengar. Begitu pentingnya kesehatan mental atau jiwa sehingga dapat turut meningkatkan kesehatan tubuh atau fisik seseorang.

Dalam Undang-undang No.18 tahun 2014 pasal 1 disebutkan bahwa Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Sementara Orang Dengan Masalah Kejiwaan yang selanjutnya (ODMK) adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa dan Orang Dengan Gangguan Jiwa yang selanjutnya (ODGJ) adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia

Kondisi gangguan mental seringkali dianggap remeh oleh sebagian orang. Hal ini diakibatkan oleh kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang penyakit, kelainan maupun gangguan mental. Akbiatnya sering kali menimbulkan kesalahan dalam penanganan  terhadap penderita gangguan penyakit mental. Fenomena pasung misalnya, banyak kasus di Indonesia yang justru menggunakan metode ini, alih-alih memberikan pengobatan yang tepat.

Padahal dengan menggunakan metode pasung, orang dengan gangguan jiwa tersebut tidak akan menjadi lebih baik. Justru akan membuatnya terkucilkan dari sosialnya dan berakibat muncul perasaan putus asa bahkan dendam. WHO berpendapat bahwa selama dalam kurungan, orang pengidap gangguan jiwa dapat berkembang menjadi semakin buruk.

Pada akhir 2019, pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menangani 511 kasus pasung pada orang dengan gangguan kejiwaan. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang tercatat tanpa menutup kemungkinan masih banyak kasus-kasus pasung lainnya.

Kurangnya kesadaran dan pengetahuan tentang kesehatan mental juga membuat banyak orang yang sebenarnya mengalami gejala-gejala penyakit mental menjadi enggan untuk berkonsultasi dengan spesialis kejiwaan untuk memeriksakan keadaannya. Hal ini dikarenakan adanya rasa malu (stigma negatif) ataupun ketakutan akan dikucilkan dan lain sebagainya.

Sebenarnya apa itu penyakit mental?

Penyakit mental adalah penyakit yang melibatkan gangguan pada fungsi otak yang boleh menyebabkan perubahan kepada proses pemikiran, perasaan dan tingkah-laku seseorang yang mengakibatkan gangguan untuk menjalani aktivitas seharian dengan baik. Contoh-contoh yang termasuk kedalam penyakit mental atau yang biasa disebut juga kelainan mental antara lain: Depresi, Anxiety Disorder (Gangguan Rasa Takut berlebih), Skizofrenia, Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD), Eating disorder sampai kepada tindakan adiksi yang atau kecanduan terhadap sesuatu yang tidak wajar seperti obat-obatan atau bahan kimia tertentu sehingga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari dan menimbulkan banyak masalah dalam keberfungsian sosial seperti tidak dapat bekerja sama dengan orang lain atau menjalin hubungan dengan orang lain.

Berikut beberapa jenis penyakit mental

  • Psikoneurosis

Psikoneurosa merupakan sekelompok reaksi psikis yang ditandai secara khas dengan unsur kecemasan, dan secara tidak sadar ditampilkan dengan penggunaan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism). Psikoneurosa adalah bentuk gangguan/kekacauan fungsional pada system pensyarafan, termasuk disintegrasi dari sebagian kepribadiannya. Tidak ada kontak dengan lingkungan sekitarnya dan relasi dengan dunia luar sedikit sekali

  • Psikofungsional

Psikofungsional merupakan disorder mental secara fungsional kepribadian dan maladjustment social yang berat. Penderita tidak mampu mengadakan relasi sosial dengan dunia luar, sering terputus samasekali dengan realitas hidup, lalu menjadi inkompeten secara sosial, terdapat pula gangguan pada karakter dan fungsi intelektual. Seringkali pasien menderita kekalutan hebat; dihinggapi depresi, delusi, halusinasi dan ilusi optis. Tidak mempunyai insight sama sekali, mengalami regresi psikis; dia menderita stupor yaitu tidak bias merasakan sesuatupun, keadaannya seperti terbius. Ini gejala lainnya adalah: sering mengamuk disertai kekerasan dan serangan-serangan yang maniakl kegila-gilaan, sehingga membahayakan dan mengancam orang lain. Disamping itu penderia ini juga membahayakan diri sendiri.

  • Skizofrenia

Skizofrenia biasanya terjadi pada usia muda antara akhir usia remaja hingga 20an akhir, penyakit ini merupakan gangguan pada kemampuan kognitif, emosi dan tingkah laku yang masih belum ditemukan pasti penyabab terjadinya. Tanda-tanda gejala orang yang menderita skizofrenia adalah sebagai berikut:

1. Delusi: Penderita skizofrenia tidak mampu membedakan realita dan khayalan. Penderita lebih sering mempercayai bahwa apa yang ada di dalam khayalannya adalah kenyataan dan tidak menyadari keadaan realita yang sebenarnya

2. Halusinasi: Mendengar atau melihat sesuatu yang tidak nyata.

3. Berbicara Tidak Jelas: Tidak mampu berbicara dengan baik, seperti memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan yang ditanyakan dalam percakapan sehari-hari.

4. Gejala Negatif: Yang dimaksud disini adalah tidak berjalannya fungsi emosi manusia. Seperti misalnya berbicara datar tanpa nada atau ekspresi wajah, tidak melihat ke lawan bicara ketika sedang berbicara, tidak memiliki semangat atau minat terhadap kegiatan sehari-hari dan tidak memiliki niat dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain.

  • Bipolar Disorder

Bipolar Disorder adalah kondisi dimana ada ketidakjelasan antara perasaan Manic (Euforia) dan Depresif. Penderita bipolar dapat seketika merasa senang luar biasa dan kemudian secara tiba-tiba merasa depresif, bertolak belakang dari apa yang dirasa sebelumnya, tanpa ada sebab yang jelas. Bipolar disorder merusak sistem kerja emosi seseorang. Hal ini dapat merusak keberfungsian sosial dan hubungan sosialnya di masyarakat sebagaimana penderita tidak memiliki keadaan emosi yang tidak jelas dan bisa saja tiba-tiba melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Bipolar disorder memiliki dua fase yaitu Manic dan Depressive. Gejala yang muncul ketika penderita ada dalam fase manic antara lain: Euforia, Rasa percaya diri yang tinggi, Agresif, berdelusi, kehilangan rasa takut dan berani mengambil resiko dalam batas yang tidak normal. Sementara dalam fase depresif: Penderita mengalami kesedihan, putus asa, rasa takut, menyesal, kelelahan, rasa sakit tanpa ada sebab dan memiliki keinginan untuk bunuh diri. Penderita bipolar seringkali mengalami kedua fase tersebut secara berubah-ubah tanpa ada sebab yang jelas dan gejala ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa atau remaja, tapi juga bisa terjadi pada anak-anak dan inilah yang seringkali tidak disadari oleh para orang tua sehingga anak yang menderita bipolar tidak mendapat penanganan yang tepat.

  • Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Ada jenis penyakit mental terjadi yang pada anak, diluar down syndrome atau autisme yang secara fisik sudah dapat teridentifikasi yaitu Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) Penyakit mental ini biasanya hanya terjadi pada anak-anak, namun apabila penyakit mental ini tidak mendapat penanganan hingga si anak tumbuh dewasa, sifat-sifat buruk dari kelainan ini akan terus terbawa dan menjadikan anak tersebut menjadi sulit bersosialisasi dan berhubungan dengan orang lain ketika sudah bertumbuh dewas. Anak yang menderita ADHD biasanya sulit fokus dan menerima perintah. Tidak sabaran, cepat bosan atau marah serta bertindak impulsif dalam batasan yang tidak normal. Perasaan kurang percaya diri, selalu cemas dan selalu merasa kurang adalah hal yang sering terjadi pada penderita ADD. Dll.

Kesadaran masyarakat tentang kesehatan mental.

Masyarakat pada umumnya sulit untuk memahami tentang gangguan mental dari sisi medis. Lebih banyak masyarakat memilih melihat gangguan mental dari sisi kebudayaan maupun keagamaan. Hal ini tentu perlu diluruskan, karena gangguan mental harus ditangani secara tepat untuk menghindari memburuknya kesehatan mental dari pengidapnya.

Masyarakat di Indonesia seringkali salah melihat fenomena kesehatan mental. Banyak diantaranya menganggap seseorang yang tengah mengidap gangguan mental sebagai kesurupan atau kerasukan setan. Maka penanganan yang diberikan pun sering kali tidak tepat. Alih-alih diberikan pengobatan dan perawatan, justru pengidap gangguan mental seringkali diberikan penanganan secara spiritual seperti ruqyah, exorcism, atau dibawa ke orang-orang yang berprofesi sebagai ‘dukun’.

Cara-cara tersebut bukanlah cara yang salah, tetapi kurang tepat. Ruqyah misalnya, merupakan metode psikoterapi dengan menggunakan pendekatan spiritual dan religi. Ruqyah secara umum adalah metode penyembuhan dengan cara membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan asma-asma Allah pada orang yang sakit. Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah, terapi ruqyah merupakan terapi yang dilakukan dengan tujuan menyembuhkan orang yang sakit dengan meminta pertolongan Allah SWT dengan melafalkan doa-doa di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Ruqyah dapat membantu mengusir gangguan sihir atau jin serta bisa menjadi terapi untuk disik dan mengobati gangguan jiwa.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, cara-cara spiritual dan religi tidaklah salah hanya saja kurang tepat. Sebaiknya selain mendapatkan terapi dari ahli spiritual seseorang yang mengidap gangguan kejiwaan jiga mendapat perawatan secara medis dalam hal ini oleh psikiater atau psikolog.

Solusi pencegahan dan pemecahan

Kesehatan mental dapat dijaga dengan beberapa cara diantaranya:

  • Berolah raga, menjaga kebersihan dan penampilan.

Seperti yang disebutkan sebelumnya fisik dan mental tidak dapat dipisahkan. Olehraga dapat membantu seseorang menjaga kestabilan dirinya baik dari sisi fisik maupun mental. Begitu pula dengan menjaga kebersihan dan penampilan, setelah memiliki fisik dan mental yang sehat sebagai seorang makhluk sosial, manusia perlu bersosialisasi dengan sesamanya secara positif

  • Bersosialisasi secara aktif di lingkungan suportif

Melibatkan diri dalam kelompok atau masyarakat secara luas dapat membantu keseimbangan mental. Dengan bersosialisasi secara aktif pada lingkungan yang tepat, seseorang tentu akan merasa terdorong dan termotivasi

  • Penerimaan diri

Menerima kekurangan diri dan memahami kelebihan diri tentu dapat membantu seseorang untuk tetap menjaga kesehatan mentalnya. Dengan menerima diri seseorang bisa berkembang secara natural.

  • Terapi

Melakukan terapi seperti meditasi dapat membantu seseorang dalam menenangkan hatinya.

  • Pola hidup baik

Membiasakan diri untuk selalu menjalankan pola hidup yang baik dan sehat seperti tidur cukup, menghindari alkohol dan narkoba, makan sehat dan teratur

  • Beribadah

Ibadah merupakan ritual mendekatkan diri dengan Tuhan sekaligus menjadi media komunikasi antara Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya. Selain itu ibadah dapat pula membantu meningkatkan fokus, kesabaran, ketekunan dan rasa bersyukur.

  • Mengenali gejala gangguan mental dan mencari bantuan yang tepat

Kenali jenis-jenis gangguan mental dan cara mengatasinya. Bila dirasa tidak mampu untuk mengatasi, atau diarahkan pada solusi yang kurang tepat mintalah bantuan pada dokter untuk berkonsultasi. Jangan pernah merasa malu atau ragu untuk mencari pertolohan ahli.

Sumber referensi:

Adisty Wismani Putri, d. (t.thn.). KESEHATAN MENTAL MASYARAKAT INDONESIA (PENGETAHUAN, DAN KETERBUKAAN MASYARAKAT TERHADAP GANGGUAN KESEHATAN MENTAL). 147 – 300.

Berry Choresyo, d. (t.thn.). KESADARAN MASYARAKAT TERHADAP PENYAKIT MENTAL. 301 – 444.

Mubasyaroh. (2013). Pengenalan Sejak Dini Penderita.

https://umma.id/post/jangan-salah-kaprah-ini-pengertian-ruqyah-dalam-islam-658112?lang=id
https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/mitos-dan-fakta-kepribadian-ganda/
https://hellosehat.com/mental/penyakit-mental/#13133-diagnosis-untuk-mental-illness-gangguan-mental

Penulis: KMDS (TS)

Editor: Doni Resa (TS)

Dapatkan update terbaru dari kami

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.