Melihat Prospek Wisata Vaksin di Bali

90

Indonesia kembali memperpanjang masa PPKM sampai 16 Agustus 2021. Hal ini ditujukan karena pengendalian pandemi masih belum berhasil dicapai untuk mengendalikan penyebaran penyakit. Jumlah yang positif serta tingkat kematian yang masih tinggi masih belum menunjukan tanda-tanda perbaikan pengendalian pandemi. Hal ini semakin sulit sebab kepatuhan memakai masker serta rasio vaksin yang rendah juga sulit untuk membantu pencegahan penyakit covid-19 agar tidak meluas.

Sektor wisata juga sangat terdampak akibat adanya pandemi covid-19. Dengan adanya pembatasan mobilitas sosial yang massif dan sektor ini tidak termasuk sektor non essensial dampaknya cukup terasa. Bali yang sangat mengandalkan pemasukannya dari pariwisata sebesar 56% sehingga pertumbuhan perekonomiannya masih minus. Akibatnya, banyak terjadi PHK di sektor ini serta penjualan aset wisata.

Untuk memulihkan ekonomi Bali memang diperlukan kerja keras yang luar biasa karena pariwisata masih menjadi sektor yang sangat terdampak dengan adanya pandemi ini. Pemulihan juga akan sangat bergantung kepada penanganan pandemi dari pemerintah. Salah satu bentuk upaya tersebut adalah adanya paket wisata vaksin di Bali. Hal ini menarik tapi perlu hati-hati agar tidak menyalahi aturan yang ada yaitu kebijakan vaksin gratis untuk masyarakat maupun tidak menimbulkan kesan negatif bagi publik.

Ada beberapa hal yang harus menjadi syarat dengan adanya paket wisata ini. Pertama, cakupan vaksinasi nasional harus dapat disediakan dengan baik oleh pemerintah. Suplai vaksin dan ketersediaanya harus memadai, pembuatan vaksin di Indonesia harus segera dipercepat sehingga ketergantungan kita terhadap vaksin dari luar semakin berkurang. Sebaiknya tidak seperti saat ini, dimana pasokan vaksin ke daerah masih terhambat dan masih terpusat di perkotaan. Memang, pada saat ini Bali menjadi provinsi dengan cakupan vaksinasi paling baik akan tetapi peningkatan kasus di Provinsi tersebut juga masih tinggi sehingga belum menunjukan pengendalian pandemi yang mumpuni.

Kedua, vaksin yang disediakan sebaiknya vaksin yang sesuai dengan keinginan pengguna. Sehingga ketika ditawari program vaksin di dekat rumahnya dapat memilih akan melakukan vaksin di Bali melalui paket wisata yang ditawarkan karena jenis vaksinnya lebih sesuai dengan keinginan calon wisatawan.

Ketiga, pada saat pelaksanaan, perlu menegakan aturan terkait pencegahan penyebaran covid-19 seperti tes antigen/PCR yang sesuai dengan kaidah yang ada, serta kepatuhan calon wisatawan dalam menerapkan 3M dalam melakukan aktivitas perjalanan dan wisata. Jangan sampai terjadi lagi kasus penyalahgunaan antigen seperti di Bandara Kualanamu Medan.

Hal ini sebenarnya cukup inovatif jika dilaksanakan dengan baik eksekusinya. Sehingga mampu membantu berkontribusi terhadap perekonomian di Bali atau jika Bali sukses dapat direplikasi ke daerah wisata lainnya sehingga sektor ini dapat terbantu dan pulih lebih cepat. Hal yang harus sangat diperhatikan adalah bahwa paket ini sifatnya sukarela bukan karena kesulitan mendapatkan akses vaksin gratis sehingga dengan terpaksa harus membeli paket wisata vaksin karena ketiadaan layanan vaksin yang memadai.

Penulis : Affabile Rifawan Dosen FISIP Unpad

Dapatkan update terbaru dari kami

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.