Kurang Patuhnya Masyarakat, Membuat Jumlah Kasus Positif Covid Melonjak Tinggi

205

Pasca libur panjang hari raya lebaran 2021, Indonesia kembali mengalami peningkatan kasus virus Corona. Padahal, sebelumnaya kasus COVID-19 di Indonesia sempat menyentuh titik terendah kasus penularan virus Corona pada awal Mei 2021.

Sebelumnya pada tanggal 31 Desember 2019 di Wuhan, Tiongkok di ilaporkan bahwa telah adanya wabah Coronavirus Disease 2019 atau yang biasa dikenal dengan COVID-19, virus tersebut merupakan jenis coronavirus baru yang bernama Sars-CoV-2. COVID-19 tidak menular melalui udara tetapi dari manusia ke manusia melalui kontak erat dan juga droplet (percikan cairan pada saat bersin dan batuk). Seperti dilansir infeksiemerging.kemkes.go.id, pada tanggal 6-maret-2020, “Hingga saat ini penelitian menyebutkan bahwa virus penyebab COVID-19 ditularkan melalui kontak dengan tetesan kecil (droplet) dari saluran pernapasan”.

Karena penyebaran pandemi COVID-19 ini sangat cepat, imbasnya mempengaruhi beberapa aspek tak terkecuali pendidikan. Seluruh kegiatan pembelajaran dari mulai jenjang terendah sampai jenjang tertinggi harus melakukan pembelajaran dengan metode sistem daring (dalam jaringan) atau online. Dengan menggunakan sistem daring (dalam jaringan) maka akan mengurangi kontak yang cukup dekat dengan orang lain yang tujuannya itu adalah agar virus tidak cepat menyebar.

Meskipun sudah sangat banyak korban nyata dari kasus COVID-19 ini, mulai dari virus tersebut baru masuk ke Indonesia sampai detik ini pun masih ada yang tidak percaya akan ganas nya virus COVID-19. Masih banyak yang percaya jika kasus COVID-19 ini merupakan manipulasi data. Mereka pun masih sulit untuk mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

COVID-19 memberikan imbas yang buruk pada Indonesia, sangat menyusahkan masyarakat untuk beraktivitas normal seperti dahulu kala karena adanya social distancing. Banyak korban jiwa yang diakibatkan oleh COVID-19 karena virus ini merupakan virus yang ganas, sampai hari ini (17/06/2021) ada 1,950.276 kasus dengan korban sembuh 1,771.220 orang dan korban meninggal dunia 53.753 orang. Tidak hanya korban jiwa, perekonomian pun terkena imbasnya karena banyak perusahaan yang mengalami kerugian dan juga karyawan yang di-PHK sehingga banyaknya masyarakat yang menganggur. Lalu dampak pada pendidikan adalah pelajar merasa sulit memahami materi yang disampaikan oleh guru/dosen karena ada kendala jaringan maupun device.

Jika dilihat dari akar masalah mengapa kasus COVID-19 masih melonjak tinggi, itu dikarenakan masih banyaknya masyarakat yang kurang peduli dengan peraturan yang berlaku. Banyak masyarakat yang keras kepala tidak ingin memakai masker dan juga tidak melakukan protokol kesehatan saat berpergian keluar rumah. Masyarakat yang egois seperti itu biasanya akan membawa dampak buruk bagi sekitar apalagi bagi orang-orang terdekatnya karena mereka bisa saja menjadi carrier  bagi orang yang ada dirumah meskipun mereka tidak menunjukkan gejala apapun.

Masyarakat yang kurang maupun tidak peduli sama sekali akan COVID-19 masih banyak dijumpai dan ini adalah akar masalah yang lain mengapa COVID-19 masih ada sampai saat ini. Masih banyak yang berpergian keluar rumah padahal urusannya tidak terlalu penting, serta kurangnya kesadaran untuk menjaga protokol kesehatan ketika di luar rumah seperti menggunakan masker.

Setelah hari raya lebaran 2021 kemarin, banyak yang pergi untuk mudik padahal sudah ada himbauan dan juga pencegatan agar tidak melakukan mudik. Tetapi banyak masyarakat bandel yang masih tetap nekat untuk pergi mudik, padahal bisa berpeluang menjadi carrier bagi orang-orang yang berada di daerah yang akan dikunjungi. Tempat-tempat wisata pun masih banyak yang buka tanpa maksimal pengunjung, menyebabkan membludaknya wisatawan yang membuat penyebaran COVID-19 menjadi semakin cepat. Karena pemudik tersebut, menjadi salah satu penyebab mengapa angka kasus COVID-19 semakin melonjak tinggi.

Selain itu, pusat perbelanjaan seperti mall diseluruh Indonesia juga peraturannya tidak seketat peraturan pada saat awal masuknya COVID-19. Lalu karena mall sempat sepi, banyak brand pakaian maupun tempat makan yang mengadakan diskon besar-besaran membuat banyaknya masyarakat mengunjungi mall dan membuat kerumunan. Apalagi di restoran-restoran sangat banyak yang tidak menggunakan masker serta tidak menjaga jarak. Padahal di restoran tersebut, kursi dan meja nya sudah diberi tanda silang untuk membatasi jarak tetapi tetap saja diabaikan dan menempati kursi dan meja yang sudah diberi tanda silang.

Harapannya kepada pemerintah untuk membuat kebijakan yang lebih tegas lagi agar masyarakat tidak berani melanggar kebijakan tersebut. Membuat denda yang membuat masyarakat akan berpikir dua kali untuk melanggar kebijakan atau peraturan yang berlaku, ini pun berlaku tidak hanya untuk masyarakat melaikan juga untuk tempat makan, mall, dan tempat – tempat wisata serta memperketat lagi protokol kesehatan. Lalu diharapkan untuk lebih optimal lagi dalam menggunakan dana untuk pasien COVID-19 dan juga dana untuk vaksin.

Setelah itu, harapan untuk pemerintah selanjutnya adalah membuat solusi yang tidak akan merugikan masyarakat di seluruh kalangan, mau dari kalangan kelas bawah sampai dengan kalangan kelas atas. Dan yang terakhir adalah memperbanyak tenaga medis dan juga alat – alat termasuk kamar atau ruangan untuk pasien COVID-19. Karena kasus COVID-19 sedang melonjak tinggi jadi diharapkan untuk lebih sigap lagi dalam melayani pasien.

Dan harapan untuk masyarakat adalah untuk lebih peduli lagi dengan penyebaran virus COVID-19 dengan menjalankan serta mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Mematuhi segala peraturan yang diberikan oleh pemerintah. COVID-19 ini merupakan masalah yang serius bagi kita semua, jadi diharapkan untuk tidak menyepelekan virus COVID-19 ini.

COVID-19 sangatlah merugikan seluruh umat manusia karena banyak sekali dampak buruknya yang membuat kita semua menderita. Agar pandemi ini segera berlalu, maka seluruh masyarakat dihimbau untuk selalu mematuhi segala protokol kesehatan dan juga segala aturan dari pemerintah.

Penulis: Nabila Azzahra (Mahasiswa S1 Digital Public Relations Fakultas Komunikasi dan Bisnis

Telkom University 2019)

Editor: Doni Resa (TS)

Dapatkan update terbaru dari kami

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.